16 Apr 2014

Bahan Bakar Dari Sekam Padi - FMIPA UNEJ






Jalal Rosyidin Soelaiman, Ahmad Mustakim, dan Agung B.Aji adalah mahasiswa jurusan fisika Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember. Ketiga mahasiswa tersebut berhasil menciptakan alternatif bahan bakar minyak (BBM). Mereka menciptakan Bahan bakar dari sekam padi.

Ide pembuatan bahan bakar dari sekam padi muncul saat mereka mendapatkan tugas mata kuliah biofisika dengan tema mengenai pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati disekitar kita untuk bahan bakar alternatif. Kemudian Agung B.Aji sadar bahwa di desanya, di dukuh dempok, wukuhan, jember terdapat pengusaha kerupuk yang masih menggunakan kayu bakar untuk menggoreng kerupuk. “informasi ini kami tindak lanjuti dengan observasi di lapangan sekaligus berkonsultasi dengan dosen pengampu mata kuliah bio fisika,” kata agung.

Sejumlah pengusaha kerupuk memilih menggunakan elpiji, ada juga yang memakai minyak tanah, bahkan kayu bakar sebagai bahan bakar. Ketiga jenis bahan bakar itu memiliki kelemahan. pemakaian elpiji terkadang terkendala persediaannya di pasar. Sedangkan harga minyak tanah kini sangat tinggi karena tidak ada lagi subsidi. Selain itu pemakaian kayu bakar secara berlebihan juga dapat berpotensi menyebabkan kerusakan alam.

Kebetulan dari kegiatan turun ke lapangan, jalal dan kawan – kawan berusaha menemukan bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar. mereka menemukan bahan alternatif itu pada sekam padi. Sebenarnya sekam padi sudah lama digunakan sebagai salah satu bahan bakar oleh masyarakat di desa, tapi penggunaannya dengan membakar sekam padi begitu saja. misalnya, pada pembuatan batu bata.

Berbagai literature telah mereka cari untuk mendukung penelitian mereka. Mereka mencoba memberi sentuhan Teknologi Tepat Guna ( TTG) pada sekam padi sehingga sekam padi tersebut lebih bermanfaat. Dari hasil studi pustaka dan konsultasi dengan dosen, mereka menemukan fakta bahwa sekam padi harus dipanaskan dahulu agar menghasilkan kalor atau panas dengan maksimal. Proses pemanasan berlangsung lima menit. Ketiga mahasiswa ini biasanya menempatkan sekam padi sebanyak lima belas sampai dua puluh kilogram untuk sekali proses pemanasan. Sekam yang sudah dimasak tadi kemudian dicampur dengan air dan tepung kanji dengan komposisi, 1.200 gram sekam padi dicampur dengan 2 litter air kemudian ditambah 300 gram tepung kanji yang berfungsi sebagai perekat. Campuran tadi kemudian dicetak dengan bentuk silinder dan bagian tengahnya berlubang dengan ukuran tinggi 10 cm dan berdiameter 11 cm. Setelah itu jadilah briket skam padi, namun proses pembuatan belum selesai brikat sekam padi harus di jemur hingga kering. Dari paduan komposisi tadi, bisa di dapatkan empat briket sekam padi kering dengan berat masing – masing 300 sampai 350 gram. jika dirupiahkan satu briket hanya seharga tujuh ratus rupiah.

Satu buah briket sekam padi hasil karya jalal dan kawan – kawan mampu menghasilkan panas api yang konstan dengan suhu mencapai 400 – 500 derajat celsius selama satu setengah jam. Namun briket sekam padi karya 3 mahasiswa UNEJ ini juga memiliki kelemahan yaitu perlu waktu untuk menyalakan karena mirip arang . untuk memadamkanya juga susah. Selama ini jika ingin memadamkan caranya disiram dengan air kemudian dijemur agar bisa dipakai lagi. Pembuatan briket sekam padi ini berhasil mendapatkan dana dari progam kreativitas mahasiswa ( PKM ) bidang pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti Kemdikbud pada mei 2012. Mereka berhasil mendapat bantuan dana sebesar Rp. 7,2 juta rupiah. Bantuan dana tersebut dibuat untuk mengembankan altternatif bahan bakar minyak temuan mereka agar lebih efektif, efisien, ramah lingkungan dan harganya terjangkau.

“GO BLogger Indonesia, MajuTerus Mahasiswa Universitas Jember. Tunjukan terus kretivitasmu “

0 komentar:

Post a Comment